Belajar dari pengalaman Yayasan
Harapan Taheta (YHT) dalam mengawali program “Menuju ODHIV Berdaya,
Produktif dan Mandiri di Tanah Kalimantan” yang didukung pendanaannya oleh Rainbow Gilead, telah diperoleh sejumlah
data yang cukup menarik untuk dipelajari sekaligus sebagai tantangan bagi kita
dalam upaya mewujudkan 3 zero HIV. Dengan kondisi ODHIV saat ini khususnya di 5
provinsi se Kalimantan, muncul pertanyaan apakah pada tahun 2030 Tanah
Kalimantan mampu meraih 3 zero HIV? yakni zero infeksi HIV baru, zero kematian
disebabkan AIDS, dan zero diskrimanasi. Bagaimana tidak hingga saat ini hanya
sekitar 50% ODHIV on ARV. Indikator lain bahwa masih kentalnya stigma dan
diskriminasi terhadap ODHIV baik di tatanan masyarakat, pemerintah, dunia usaha
bahkan di lembaga kesehatan sendiri sehingga tak pelak tidak sedikit ODHIV terutama
di tanah Kalimantan yang menjadi korban pemecatan dari perusahaan atau sector
swasta lainnya setelah status HIV mereka diketahui.
Berikut
adalah hasil identifikasi dan pemetaan yang dilakukan YHT melalui diskusi, brainstorming
dan methaplan dalam “Pertemuan Membangun Kepercayaan Diri, Identifikasi Potensi
dan Pemetaan Usaha Ekonomi Produktif yang Dikembangkan Odhiv” di Palangka Raya,
Banjarmasin, Pontianak, Samarinda, dan Tarakan dilaksanakan di akhir April dan
awal Mei 2022. Isunya cukup memprihatikan sekaligus menarik dan menantang untuk
direspon dan ditindaklanjuti.
Issu pertama: Ada kekhawatiran
sebagian besar ODHIV terhadap keberadaan mereka sebagai penyintas. Meskipun sebagian
besar ODHIV sudah mampu menerima diri sebagai ODHIV atau berdamai dengan virus,
namun sebagian lainnya masih sulit menerima diri sebagai ODHIV. Meskipun mereka
sudah menerima diri dengan status positif, namun hanya sebagian kecil ODHIV bersedia
membuka status HIV dengan keluarga inti mereka, karena khawatir diusir dan
dikucilkan keluarga.
Issu kedua: Saat ini nyaris semua ODHIV
sedang menggeluti pekerjaan sebagai penopang hidup keluarga namun sebagian
besar di sector informal mulai dari kerja serabutan, jualan kue, jual nasi,
jasa tatarias, tukang cukur, tukang pijat, tukang ojek, dan lain-lain yang
sebagian besar dilakukan mandiri dan secara off line dan sedikit dari mereka
secara on line atau keduanya. Beberapa ODHIV melalukan usaha ini tidak sesuai
dengan skill mereka, hanya terpaksa karena dipecat dari perusahaan dan dampak
dari Covid-19. Dengan modal seadanya mereka berusaha untuk sekedar bisa
menyambung hidup, karena peluang modal usaha diharapkan dari dukungan
pemerintah atau pihak swasta sangat kecil karena dana pemerintah difokuskan
untuk menanggulangi Covid-19.
Issu ketiga: ODHIV memiliki potensi keterampilan, bakat
dan minat yang cukup beragam namun untuk mewujudkan usaha ekonomi yang sesuai
dengan potensi mereka tersebut membutuhkan modal cukup besar. Beberapa dari
ODHIV mengutarakan keinginan mereka untuk
membuka usaha batik sasirangan, warung makan, cafe, salon kecantikan, wedding
organizer, dan bengkel motor, dan lain-lain, namun usaha ini membutuhkan
sarana, peralatan, dan bahan yang cukup besar nilainya.
Melalui
program yang digulirkan Yayasan Harapan Taheta diharapkan mampu meningkatkan
kapasitas para ODHIV dan mampu menjembatani kebutuhan ODHIV di 5 provinsi se
Kalimantan dengan dinas dan stakeholders terkait setempat dalam upaya
menyediakan modal kerja untuk pengembangan usaha ODHIV. Dengan tersedianya
sumber daya tertama lapangan kerja dan permodalan usaha dari berbagai pihak
terkait untuk bisa diakses oleh ODHIV maka optimis keberdayaan dan kemandirian
ODHIV di tanah Kalimantan bisa terwujud dan tentu akan memberi kontribusi untuk
pencapaian zero HIV pada tahun 2030. Semoga !!!