Ketua Yayasan Harapan Taheta

Dedy Baboe, M.Kes

Selalu ada harapan

Hiduplah dengan penuh harapan, karena dengan harapan lah manusia menjadi berarti. Tahun boleh berganti, ketidakpastian selalu membayangi, tapi yakinlah akan ada harapan untuk hidup yang lebih baik.

Bawi Hadohop

Perempuan saling tolong menolong

Tuesday, 3 December 2019

Peringatan HAS 2019

Hari AIDS Sedunia kembali dirayakan pada Minggu, 1 Desember 2019. Tahun ini, tema yang diangkat adalah "Communities Make the Difference" (komunitas yang membawa perubahan).
Masyarakat telah memberikan kontribusi yang tak ternilai bagi penderita AIDS. Masyarakat dinilai sebagai sumber kehidupan yang efektif dan pilar dukungan yang penting dari respon AIDS.
Puncak kegiatan HAS 2019 berlangsung di Bundaran Besar kota Palangka Raya, dengan berbagai elemen masyarakat turut meramaikan. Yayasan Harapan Taheta menjadi motor penggerak untuk keberlangsungan acara ini, dan didukung oleh partisipasi dari PKBI cabang kota Palangka Raya, KPA Provinsi KALTENG, Dinas Kesehatan Provinsi KALTENG, IWAPA KALTENG, Komunitas Barigas Bahalap, FK UPR, PMI, beberapa sekolah di Lingkungan kota Palangka Raya.

Dalam sambutannya ketua Yayasan Harapan Taheta, Dedy menyampaikan bahwa peran komunitas sangat penting dalam mengatasi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Setiap orang diharapkan paling tidak mengenal mengenai HIV & AIDS, cara penularannya dan pencegahannya, dan peran komunitas dalam merangkul teman teman ODHA menjadi sangat signifikan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi KALTENG juga menyampaikan sambutan yang dibacakan oleh utusan dari Dinas Kesehatan Provinsi, dalam sambutannya bahwa terjadi kenaikan jumlah penderita HIV AIDS di Kalimantan Tengah pada tahun 2019 ini, dan ini patut menjadi kewaspadaan kita bersama.

Acara yang berlangsung mulai dari jam 05.00 WIB pagi hari ini dirasa cukup meriah, diisi dengan berbagai hiburan. Senam masal, jalan sehat, berjoget bersama, kuis berhadiah, pelepasan balon, dan pemeriksaan kesehatan serta tes HIV dan penyakit menular seksual, Donor darah

Pemerintah Provinsi KALTENG juga sangat mendukung kegiatan HAS ini dengan memfasilitasi tempat terselenggaranya kegiatan ini di depan rumah jabatan Gubernur KALTENG.

Suksesnya acara HAS 2019 tidak lepas dari dukungan dan kerjasama antara Yayasan Harapan Taheta dan NIWANO Peace Foundation sebagai donor utama dari yayasan Harapan Teheta.








































Friday, 1 November 2019

Kegiatan Peyuluhan tentang pernikahan dini

Yayasan Harapan Taheta melanjutkan roadshow kegiatan sosialisasi kepada anak-anak sekolah, kali ini adalah kepada peserta didik dari SMA PGRI 1 Palangka Raya. Pemilihan SMA PGRI 1 ini dirasa cukup pas, karena kebanyakan peserta didik adalah mereka yang berasal dari berbagai daerah di KALTENG, sehingga diharapakan ketika mereka kembali ke daerahnya masing-masing dengan membawa bekal pengetahuan mengenai problema pernikahan dini dan penularan virus HIV.

Pernikahan dini masih menjadi masalah serius bagi bangsa Indonesia, pasalnya sampai saat ini tercatat bahwa angka pernikahan anak perempuan usia dibawah 18 tahun masih memiliki angka kejadian yang cukup tinggi. Hal ini menjadi momok besar bagi bangsa kita, sebab masalah ini dapat berdampak buruk bagi kualitas generasi muda dan berujung pada semakin terpuruknya tingkat sosioekonomi bangsa. 

Penularan HIV yang menyebabkan AIDS juga patut diwaspadai di kalangan anak usia sekolah, karena kurang mengetahui mengenai bahaya dari HIV AIDS yang sebenarnya. 

Materi kegiatan ini disampaikan oleh Pak Mirhan dan Nawan, juga dihadiri oleh Ketua Yayasan Harapan Taheta, Bung Dedy, serta pengurus yayasan Bu Septi.












Thursday, 31 October 2019

Kegiatan Penyuluhan stunting

Yayasan Harapan Taheta, berkesempatan untuk memberikan pemahaman mengenai Stunting dan pernikahan dini bagi murid SMPN-3 Banama Tingang Tangkahen, Kabupaten Pulang Pisau. 
Menurut data dari WHO, di seluruh dunia, 178 juta anak di bawah usia lima tahun diperkirakan mengalami pertumbuhan terhambat karena stunting.
Stunting adalah permasalahan gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam rentang yang cukup waktu lama. Umumnya hal itu disebabkan asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Permasalahan stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru akan terlihat ketika anak sudah menginjak usia dua tahun.
 



Dengan pemberian materi mengenai pernikahan dini diharapkan bahwa murid murid SMPN ini dapat memahami bahwa ketidaksiapan dari segi mental dan fisik, serta kematangan dalam membina rumah tangga dapat menjadi pemicu lahirnya anak anak yang mengalami Stunting.

Sebagai narasumber untuk kegiatan ini adalah Pak Mirhan yang juga adalah Pembina Yayasan Harapan Taheta.
















Thursday, 26 September 2019

Kegiatan Lokakerja Yayasan Harapan Taheta

Yayasan Harapan Taheta memiliki semangat untuk tetap fokus memfasilitasi kegiatan penanggulangan HIV & AIDS melalui keterlibatan Lintas Agama. Telah dilaksanakan Diskusi Publik beberapa waktu lalu dengan tema “Menghilangkan Stigma dan Diskriminasi ODHA dalam Memperkokoh Kerukunan Umat Beragama di Provinsi Kalimantan Tengah". Setelah kegiatan tersebut pendekatan yang perlu ditindaklanjuti agar setiap Pimpinan/Tokoh Agama dari setiap lintas agama mengambil peran dalam penanggulangan HIV & AIDS di tempat pelayanannnya masing-masing, agar jangan salah persepsi tentang HIV & AIDS yang diinformasikan bagi umatnya. Sebagai langkah penyebaran infomasi kepada umat, Yayasan Harapan Taheta mengadakan “Lokakerja sekaligus Pelatihan” Pendamping bagi Umat di setiap tempat/Rumah Ibadah.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis 26 September 2019 dengan melibatkan utusan dari berbagai lembaga agama yang memang sudah berperan pada pertemuan sebelumnya. kegiatan ini bertujuan untuk :
  1. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman sebagai perpanjangan tangan pemberian informasi tentang HIV & AIDS kepada Jemaah/Umat di setiap lintas Agama.
  2. Mengidentifikasi permasalahan dan alternative solusi dalam upaya mengurangi/ menghapus stigma dan diskriminasi terhadap ODHA di tingkat jemaat/Umat.
  3. Berupaya bersama pimpinan/tokoh agama lintas agama agar ada program kegiatan dalam upaya bersama penanggulangan HIV & AIDS ditempat Ibadah dalam mengurangi Stgma dan Diskriminasi bagi Umat.

Output Kegiatan
  1. Adanya persamaan persepsi para tokoh lintas agama dalam memahami HIV & AIDS dan adanya komitmen untuk disampaikan kembali kepada Jemaah lainnya.
  2. Adanya Program kegiatan Bersama turut serta beruapaya memutus mata rantai penanggulangan HIV & AIDS tanpa stigma dan diskriminasi ODHA.
  3. Adanya Pernyataan/Deklarasi Sikap Pimpinan/Tokoh Agama Lintas Agama untuk mendorong setiap Lintas Agama termasuk Stakeholders lembaga masyarakat, swasta maupun pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran HIV & AIDS tanpa Stigma dan Diskriminasi.