Yayasan Harapan Taheta mengucapkan selamat hari Natal 25 Desember 2019, kiranya kasih sukacita Natal menjadi perekat tali persaudaraan dalam bingkai kesatuan persatuan demi kebahagiaan seluruh umat manusia
Ketua Yayasan Harapan Taheta
Dedy Baboe, M.Kes
Pembina Yayasan Harapan Taheta
Drs. Mirhan M.Pd
Selalu ada harapan
Hiduplah dengan penuh harapan, karena dengan harapan lah manusia menjadi berarti. Tahun boleh berganti, ketidakpastian selalu membayangi, tapi yakinlah akan ada harapan untuk hidup yang lebih baik.
Bawi Hadohop
Perempuan saling tolong menolong
Sunday, 22 December 2019
Tuesday, 3 December 2019
Peringatan HAS 2019
Hari AIDS Sedunia kembali dirayakan pada Minggu, 1 Desember 2019. Tahun ini, tema yang diangkat adalah "Communities Make the Difference" (komunitas yang membawa perubahan).
Masyarakat telah memberikan kontribusi yang tak ternilai bagi penderita AIDS. Masyarakat dinilai sebagai sumber kehidupan yang efektif dan pilar dukungan yang penting dari respon AIDS.
Puncak kegiatan HAS 2019 berlangsung di Bundaran Besar kota Palangka Raya, dengan berbagai elemen masyarakat turut meramaikan. Yayasan Harapan Taheta menjadi motor penggerak untuk keberlangsungan acara ini, dan didukung oleh partisipasi dari PKBI cabang kota Palangka Raya, KPA Provinsi KALTENG, Dinas Kesehatan Provinsi KALTENG, IWAPA KALTENG, Komunitas Barigas Bahalap, FK UPR, PMI, beberapa sekolah di Lingkungan kota Palangka Raya.
Dalam sambutannya ketua Yayasan Harapan Taheta, Dedy menyampaikan bahwa peran komunitas sangat penting dalam mengatasi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Setiap orang diharapkan paling tidak mengenal mengenai HIV & AIDS, cara penularannya dan pencegahannya, dan peran komunitas dalam merangkul teman teman ODHA menjadi sangat signifikan.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi KALTENG juga menyampaikan sambutan yang dibacakan oleh utusan dari Dinas Kesehatan Provinsi, dalam sambutannya bahwa terjadi kenaikan jumlah penderita HIV AIDS di Kalimantan Tengah pada tahun 2019 ini, dan ini patut menjadi kewaspadaan kita bersama.
Acara yang berlangsung mulai dari jam 05.00 WIB pagi hari ini dirasa cukup meriah, diisi dengan berbagai hiburan. Senam masal, jalan sehat, berjoget bersama, kuis berhadiah, pelepasan balon, dan pemeriksaan kesehatan serta tes HIV dan penyakit menular seksual, Donor darah
Pemerintah Provinsi KALTENG juga sangat mendukung kegiatan HAS ini dengan memfasilitasi tempat terselenggaranya kegiatan ini di depan rumah jabatan Gubernur KALTENG.
Friday, 1 November 2019
Kegiatan Peyuluhan tentang pernikahan dini
Yayasan Harapan Taheta melanjutkan roadshow kegiatan sosialisasi kepada anak-anak sekolah, kali ini adalah kepada peserta didik dari SMA PGRI 1 Palangka Raya. Pemilihan SMA PGRI 1 ini dirasa cukup pas, karena kebanyakan peserta didik adalah mereka yang berasal dari berbagai daerah di KALTENG, sehingga diharapakan ketika mereka kembali ke daerahnya masing-masing dengan membawa bekal pengetahuan mengenai problema pernikahan dini dan penularan virus HIV.
Pernikahan dini masih menjadi masalah serius bagi bangsa Indonesia,
pasalnya sampai saat ini tercatat bahwa angka pernikahan anak perempuan
usia dibawah 18 tahun masih memiliki angka kejadian yang cukup tinggi.
Hal ini menjadi momok besar bagi bangsa kita, sebab masalah ini dapat
berdampak buruk bagi kualitas generasi muda dan berujung pada semakin
terpuruknya tingkat sosioekonomi bangsa.
Penularan HIV yang menyebabkan AIDS juga patut diwaspadai di kalangan anak usia sekolah, karena kurang mengetahui mengenai bahaya dari HIV AIDS yang sebenarnya.
Materi kegiatan ini disampaikan oleh Pak Mirhan dan Nawan, juga dihadiri oleh Ketua Yayasan Harapan Taheta, Bung Dedy, serta pengurus yayasan Bu Septi.
Thursday, 31 October 2019
Kegiatan Penyuluhan stunting
Yayasan Harapan Taheta, berkesempatan untuk memberikan pemahaman mengenai Stunting dan pernikahan dini bagi murid SMPN-3 Banama Tingang Tangkahen, Kabupaten Pulang Pisau.
Menurut data dari WHO, di seluruh dunia, 178
juta anak di bawah usia lima tahun diperkirakan mengalami pertumbuhan
terhambat karena stunting.
Stunting adalah permasalahan gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam rentang yang cukup waktu lama. Umumnya hal itu disebabkan asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Permasalahan stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru akan terlihat ketika anak sudah menginjak usia dua tahun.
Dengan pemberian materi mengenai pernikahan dini diharapkan bahwa murid murid SMPN ini dapat memahami bahwa ketidaksiapan dari segi mental dan fisik, serta kematangan dalam membina rumah tangga dapat menjadi pemicu lahirnya anak anak yang mengalami Stunting.
Sebagai narasumber untuk kegiatan ini adalah Pak Mirhan yang juga adalah Pembina Yayasan Harapan Taheta.




